Kamis, 18 Juli 2013

Aku Cemburu

Kali ini ia mencoba berpuisi. Sila dinikmati, tetapi jangan diambil hati.



Semacam Rindu

Lelaki yang duduk bersamamu di teduh beringin saat bel istirahat berdentang
Bercerita tentang air yang jernih, embun yang sejuk, dan angin yang tenang
Jernihnya air yang tak dapat menandingi senyum bibirmu
Sejuknya embun yang tak sebanding dengan tatap matamu
Tenangnya angin yang tak bisa mengalahkan tenang sikapmu
Aku cemburu

Lelaki yang terlentang di sampingmu di padang bunga sore hari yang cerah
Melukisi langit luas tak bertiang dengan warna jingga, lembayung, dan merah
Mengukir awan menjadi beraneka bentuk tumbuhan dan hewan
Menggores sejuta warna pelangi dengan dua tangan kanan kalian
Menghitung kawanan unggas yang bermigrasi dari pegunungan
Aku cemburu

Lelaki yang tertawa lepas bersamamu ibarat ketilang baru keluar dari sangkar
Bersenda gurau di ruang kelas, di sepanjang jalan, dan di tepi sungai yang lebar
Menertawakan keluguanmu membiarkan mata kailmu yang tanggal
Kau tertawakan kekonyolannya ketika tercebur di air dangkal
Ditertawakan oleh orang lain saat kau merajuk karena ditinggal
Aku cemburu

Lelaki yang berjalan di sampingmu pada malam lima belas saat bulan merekah
Menerbangkanmu ke Venus yang kuning, Sirius yang terang, dan Sombrero yang indah
Merangkai gemintang menjadi mahkota di atas lurus rambutmu
Mengejar lintang alihan yang melintas di sela bintang yang kaku
Mengaduk warna nebula dan menuangkannya ke jari-jari lentikmu
Aku cemburu

Lelaki yang menyeka setiap tetes air matamu dengan usapan penuh kelembutan
Menghiburmu dengan boneka beruang, coklat manis, dan cerita yang menyenangkan
Menyiagakan dadanya yang bidang tempat kepalamu kau rebahkan
Mengelus perlahan rambut hitammu yang kusut dan berantakan
Menarik ujung bibirmu agar kembali memancarkan senyuman
Aku cemburu

Lelaki yang berkejaran denganmu di bawah rinai hujan bulan desember yang ceria
Bercengkerama dengan rintik gerimisnya, curahan derasnya, dan gemuruh badainya
Membayangkan berlarian di tengah hujan salju belantara Eropa
Menari di bawah hujan meteor Lyrid di padang belukar Afrika
Dan kau mengatakan hujan di hatimu telah hilang selamanya
Aku cemburu

Kini telah cukup aku tangisi kesalahan yang membuatmu pergi
Kini telah puas aku jelajahi kekecewaan yang kau rasakan dalam hati
Kini telah genap aku sadari apa yang diinginkan jiwa rapuh ini
Kini telah siap aku naikkan lagi sauh yang berkarat di dermaga mimpi

Dan kini, aku hanya bisa menunggu
Apakah semua bisa kembali seperti dulu lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar