Kamis, 21 Agustus 2014

Duri kepada Mawar

/1/

Terkadang aku harus menahan kekecewaaan
tiupan angin yang mengombang-ambingkan
membuat kusut kelopakmu yang menawan,
tak sedikitpun aku berdaya mengendalikan.

Ingin rasanya kuhajar mentari di kejauhan
jilatan teriknya yang pedih mematikan
membuatmu layu perlahan tak tertahan,
apa daya pukulanku hanya sebatas angan.

Serangan para pemburu manisan:
belalai kupu-kupu yang terjulur menggelikan
dengung sayap lebah yang bernada membosankan
pagutan paruh kolibri yang memusingkan
semut yang melangkahiku tanpa sungkan
apalagi nyamuk betina yang datangnya keroyokan.
Aku tak mampu mengusir bahkan mengalihkan
dari menghisap nektarmu yang menggiurkan. 

Butir-butir air hujan dari awan
yang mengguyur tanpa pemberitahuan
selalu membuatmu menggigil kedinginan
takkan sederas tangisku andai kesampaian,
menyadari betapa sangat mengecewakan.
Jangankan memberi setumpuk kehangatan
atau secuil naungan agar kau tak kebasahan
aku tak sempat melawan bahkan satu tetesan.

Debu yang bebas beterbangan
menempel di mahkotamu tanpa sopan
mengejekku yang pilu mengenaskan,
tak rela keindahanmu tersamarkan.

Satu makhluk yang paling menjengkelkan
yang menyadari keberadaanku dengan makian
dari kecerobohan yang ia sendiri lakukan
saat merampok dari batang yang memberimu makan.

Bila aku menusuk cuma jari tangan
ia menikamku dengan sebutan yang tak termaafkan,
bila darahnya paling banyak satu genggaman
ia menjeratku dengan panggilan yang menenggelamkan,
karena dari riset yang ia lakukan
aku untukmu adalah sebuah perlindungan.

Perlindungan, mawarku yang rupawan.
Sungguh sangat mulia, bukan?
pada bait-bait yang sudah kusampaikan
buktinya sangat jelas dan tak terbantahkan.



/2/

...

1 komentar: