Minggu, 06 Juli 2014

Memperpanjang Rindu

aroma lembab humus dari lantai di bawah perdu
hasil kerja cacing tanah, actinobacteria, dan jamur kayu
menghadirkan rindu yang semakin membelenggu
kawan, tentu kau masih menghirupnya dalam napasmu

riang celoteh unggas liar musisi puncak pepohonan
sore syukur, siang sabar, dan pagi semangat kehidupan
selalu kuingat orkestra kebahagiaan yang mereka mainkan
kawan, tentu masih mengiringi sajak yang kau lantunkan
atau sekarang malah kau ajari dangdutan?

sayang sekali,
rindu yang menyiksa ini mesti diperpanjang lagi
kita belum akan bertemu dalam waktu dekat ini
jawaban yang kucari belum tersentuh sama sekali
mungkin sampai menjelajah ke negeri di balik bumi

langit jernih bermagnitudo enam koma lima
tempat menempelnya delapan ribu lima ratus pelita
indah cahayanya bebas dari rekayasa manusia
kawan, tentu masih menerangi malammu yang gulita
atau kepulan asap telah mengaburkan semuanya?

sungai yang memantulkan warna perak terik mentari
semoga geliatnya masih sesegar waktu dulu kita mandi
kawan, masih kudengar cerita ikan dari sela batu kali
mengabarkan bahwa di hulu sana mata airnya tetap asri
atau komersialisasi mulai menginjakkan kaki?

sayang sekali,
di sini hanya dijumpai cara mereka menghancurkan
bukan alasan mengapa hal ini harus terjadi
di sini baru diketahui apa yang mereka gunakan
bukan siapa yang berada di balik semua ini
bahkan, di sini keadaannya tidak kurang mengkhawatirkan

meski begitu, aku belum menyerah
lalu mengatakan perkataanmu yang dulu kubantah:
“kawan, cara terbaik adalah bukan mempertanyakan, tetapi:
menjaga dengan penuh kesadaran
merawat dengan penuh pengorbanan
melestarikan dengan penuh keikhlasan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar