Minggu, 19 April 2015

Jalak Kepada Kerbau

Aku masih menunggumu di sini,
di hangat embun tersiram sinar mentari
saat kau memulai aktivitas pagi
sembari bercerita makmurnya negeri yang subur loh jinawi.


Aku masih menunggumu di sini,
di ranting pohon maja pojokan pematang
tempat kau menghabiskan siang
menikmati indahnya hamparan surga yang luas terbentang.

Aku masih menunggu
naik ke atas kepalamu yang bergelimang kutu.
Sekarang, kepala yang menarik Pak Tani menyemburkan asap hitam penuh racun
disertai suara yang memekakkan telinga.
Tidak terdengar lagi teriakan Pak Tani saat kau salah jalan.

Aku masih menunggu
menikmati gemulai ayunan punggung kekarmu.
Sekarang, punggung yang menarik Pak Tani goyangannya tidak lembut mengalun
disentak oleh sabuk karet bertenaga kuda.
Tidak menyambar lagi pecut Pak Tani saat gerakmu lamban
.


Aku masih
menyimpan pertanyaan bernada sedih,
pada jumpa terakhir kau ucapkan dengan lirih:
“Mengapa peradaban manusia yang semakin canggih
membuat anggota ekosistem yang lain tersisih?”

1 komentar: