Wajar
Ingatkah kau dengan jalan ini?
Jalan yang sering kita
lewati ketika mentari baru menampakkan diri
kita lalui juga ketika
mentari sedang tinggi
tak jarang ketika mentari
hampir menyerah ditelan hari
pernah pula ketika mentari
sedang tidak peduli.
Ingatkah kau dengan jalan
ini?
Jalan berpermadani dedaunan
para yang berguguran tanpa dihalau
bergemeresik merdu kala
musim kemarau
lembab geli di kaki ketika
hujan menjangkau,
warna coklatnya selalu lebih
pucat dari yang masih hijau.
Masihkah kau ingat jalan
ini?
Jalan yang menyimpan jejak
kereta angin bertenaga harapan.
Tetes keringat pengayuhnya
memercik ke kulit pepohonan.
Jalan yang dipenuhi kicau
burung yang sejuk di telinga
menemani hembusan angin
segar yang dinanti datangnya
penggerak baling-baling yang
kau buat dari daun kelapa.
Jalan yang membuatmu
ketakutan kala sepeda terguncang
tanganmu yang kecil kau cengkeramkan
erat ke pinggang
kau
sembunyikan muka ke punggungku dan berteriak kencang
atau lain waktu kau sandarkan kepala sambil lirih berdendang.
Kau mungkin tidak ingat jalan
ini.
Jejak roda itu kini
tertimbun ampas emas hitam
tetes keringat tergantikan
debu yang kusam.
Kemarin kulihat kau di
kereta yang lebih nyaman.
Kicau burung menjadi
membosankan
karena lagu dengan segala
nada tinggal pilih dan mainkan,
Hembusan angin bukan hal
yang dirindukan
karena kondisi udara mudah
diatur dengan tombol sekali tekan,
Baling-baling hanya sampah
murahan
karena semua permainan ada
di layar seukuran telapak tangan,
Guncangan tidak lagi
menakutkan
karena sistem suspensi
keretamu selembut buaian awan.
Dan aku?
Tak perlu kau pedulikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar