Senin, 17 Maret 2014

Semoga Kau Ingat

Sebuah sajak tentang jalan,



Wajar

Ingatkah kau dengan jalan ini?
Jalan yang sering kita lewati ketika mentari baru menampakkan diri
kita lalui juga ketika mentari sedang tinggi
tak jarang ketika mentari hampir menyerah ditelan hari
pernah pula ketika mentari sedang tidak peduli.

Ingatkah kau dengan jalan ini?
Jalan berpermadani dedaunan para yang berguguran tanpa dihalau
bergemeresik merdu kala musim kemarau
lembab geli di kaki ketika hujan menjangkau,
warna coklatnya selalu lebih pucat dari yang masih hijau.

Masihkah kau ingat jalan ini?
Jalan yang menyimpan jejak kereta angin bertenaga harapan.
Tetes keringat pengayuhnya memercik ke kulit pepohonan.

Jalan yang dipenuhi kicau burung yang sejuk di telinga
menemani hembusan angin segar yang dinanti datangnya
penggerak baling-baling yang kau buat dari daun kelapa.

Jalan yang membuatmu ketakutan kala sepeda terguncang
tanganmu yang kecil kau cengkeramkan erat ke pinggang
kau sembunyikan muka ke punggungku dan berteriak kencang
atau lain waktu kau sandarkan kepala sambil lirih berdendang.

Kau mungkin tidak ingat jalan ini.
Jejak roda itu kini tertimbun ampas emas hitam
tetes keringat tergantikan debu yang kusam.

Kemarin kulihat kau di kereta yang lebih nyaman.
Kicau burung menjadi membosankan
karena lagu dengan segala nada tinggal pilih dan mainkan,
Hembusan angin bukan hal yang dirindukan
karena kondisi udara mudah diatur dengan tombol sekali tekan,
Baling-baling hanya sampah murahan
karena semua permainan ada di layar seukuran telapak tangan,
Guncangan tidak lagi menakutkan
karena sistem suspensi keretamu selembut buaian awan.

Dan aku?
Tak perlu kau pedulikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar